Tau gak apa yang paling mahal di dunia ini setelah keluarga? Rumah? Lamborghini? Berlian? Bukan men... tapi KEPERCAYAAN. Bayangin kalo misalnya kamu ngasih kepercayaan sama temen tapi kepercayaanmu disalahgunain, bisa gak kamu percaya lagi sepenuhnya sama dia ? NGGAK BAKALAN !!!
Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts
Monday, November 10, 2014
Sunday, November 9, 2014
Ujian Hidup...
Sebenernya sih ini cerita kemaren cuman baru sempet nulis sekarang aja, hehehe. Jadi anggep aja hari ini masih hari Sabtu, oke? :D
Jadi gini...
Hari ini aku masih kudu harus wajib kekampus buat ujian, ujian pas weekend itu emang bener-bener ujian hidup...
Jadi gini...
Hari ini aku masih kudu harus wajib kekampus buat ujian, ujian pas weekend itu emang bener-bener ujian hidup...
Wednesday, November 5, 2014
#RIP 2012 - 2014
Pernah gak kamu suka sama orang tapi sebenernya kamu gak begitu ngenalin orangnya?
Pernah gak kamu marah sama dia padahal dia gak pernah bikin salah apa-apa sama kamu?
Pernah gak kamu nungguin orang tapi orangnya gak tau kalo kamu lagi nunggu dia?
Kalo kamu gak pernah ngerasain... BERSYUKURLAH !!!
Rasanya tu kayak kamu ngolesin balsem ke kelopak mata, perih perih perih !
Saturday, October 25, 2014
Veteran Berdarah
Sebenernya sih judulnya gak se-lebay itu, cuman biar dramatis aja kayak drama korea.
Jadi gini....
Di suatu siang yang mendung tapi Alhamdulillah hatiku nggak ikutan mendung, si kakak minta aku nganterin dia kerumah temennya, sebagai adik yang baik dan budiman serta calon istri sholehahnya kamu *eaaakkk* akhirnya aku bersedia direpotkan olehnya.
Thursday, October 23, 2014
KULIAH KERJA NYANTAI
"LIBUR TELAH TIBAAA HAHHH LIBUR TELAH TIBAAA HAHHH HOREYY HOREYY HOREYY !!!" lagu yang aku puter pas masuk liburan semester 6 ini rupanya hanya sebuah lagu belaka *hiks*, nyatanya waktu liburanku bakal dihabisin buat ngelakuin kegiatan yang kalo gak salah sih namanya "Kuliah Kerja Nyata". Kalo bukan karna masuk mata kuliah wajib mah tak sudiku melakukannya *AWALNYA AJA HOIIKK*
Wednesday, January 4, 2012
Pahamilah Sebuah Pertemanan
Ini adalah sebuah pertanyaan bagus, cobalah menjawab.....
Anda sedang menyetir sendirian dengan mobil kecilmu, tengah malam, hujan deras
dan banyak guntur dan petir. Agak jauh dari perumahan penduduk.
Tetapi tiba-tiba, mobil anda di stop oleh 3 orang yang yang sedang menunggu tumpangan:
1. Perempuan tua yang sekarat, butuh bantuan darurat
2. Seorang teman lama, yang pernah menyelamatkan hidup anda
3. Partner yang sempurna, yang anda impikan selama ini.
Orang yang mana yang anda pilih, untuk ikut bersama anda.
Karena mobil anda kecil, jadi hanya muat satu orang bersama pengemudi.
Pikirkanlah baik-baik!!!!
(sebelum melanjutkan)
sebuah dilema moral, untuk memilih yang terbaik bagi anda dan sesama.
* Membawa wanita tua itu, karena butuh pertolongan darurat (dia tidak punya banyak waktu menunggu), atau
* Memilih teman lama, yang pernah menyelamatkan hidup anda, ini adalah waktu yang tepat untuk membalasnya.
* atau Parrtner yang sempurna, yang belum tentu akan ketemu lagi seumur hidup.
Telah banyak yang menjawab pertanyaan ini, dan
mereka memilih yang terbaik menurut mereka.
Tetapi telah ditemukan 1 jawaban yang mengejutkan....
^^^
Dia menjawab dengan simpel:
"Saya akan memberikan kunci mobil saya kepada
teman lama yang pernah menyelamatkan hidup saya,
dan dia akan mengantarkan wanita yang sekarat itu.
Saya akan berdiri di samping partner yang saya idamkan,
sambil menunggu tumpangan yang akan lewat.
Bijaklah menanggapi masalah, karena semua pasti ada jalan keluarnya.
Anda sedang menyetir sendirian dengan mobil kecilmu, tengah malam, hujan deras
dan banyak guntur dan petir. Agak jauh dari perumahan penduduk.
Tetapi tiba-tiba, mobil anda di stop oleh 3 orang yang yang sedang menunggu tumpangan:
1. Perempuan tua yang sekarat, butuh bantuan darurat
2. Seorang teman lama, yang pernah menyelamatkan hidup anda
3. Partner yang sempurna, yang anda impikan selama ini.
Orang yang mana yang anda pilih, untuk ikut bersama anda.
Karena mobil anda kecil, jadi hanya muat satu orang bersama pengemudi.
Pikirkanlah baik-baik!!!!
(sebelum melanjutkan)
sebuah dilema moral, untuk memilih yang terbaik bagi anda dan sesama.
* Membawa wanita tua itu, karena butuh pertolongan darurat (dia tidak punya banyak waktu menunggu), atau
* Memilih teman lama, yang pernah menyelamatkan hidup anda, ini adalah waktu yang tepat untuk membalasnya.
* atau Parrtner yang sempurna, yang belum tentu akan ketemu lagi seumur hidup.
Telah banyak yang menjawab pertanyaan ini, dan
mereka memilih yang terbaik menurut mereka.
Tetapi telah ditemukan 1 jawaban yang mengejutkan....
^^^
Dia menjawab dengan simpel:
"Saya akan memberikan kunci mobil saya kepada
teman lama yang pernah menyelamatkan hidup saya,
dan dia akan mengantarkan wanita yang sekarat itu.
Saya akan berdiri di samping partner yang saya idamkan,
sambil menunggu tumpangan yang akan lewat.
Bijaklah menanggapi masalah, karena semua pasti ada jalan keluarnya.
Dendamlah Agar Hidup Makin Tersiksa
Seorang anak muda seumuran 20 tahun, tengah merasakan sakit hati yang sangat dalam karena dia baru saja diduakan oleh kekasihnya.
Saat kekasihnya berterus terang bahwa dia sudah memiliki pendamping yang baru, dia sangat terpukul sekali, sampai-sampai dia menangis sesenggukan dan tidak bisa berbicara sama sekali.
Pemuda itupun berjanji untuk membuat hidup sang mantan kekasih tadi menderita.
Namun karena dia dan sang kekasih hati terpisah jarak yang jauh. Untuk melampiaskan rasa marahnya serta sakit hati rasanya susah juga, tapi tetap saja tekadnya untuk membalas dendam masih terus membara di dalam hati.
Meski sang kekasih sudah meminta maaf berkali-kali, tetapi rupanya pemuda itu tetap saja tidak dapat melupakan rasa sakit hatinya tersebut. Tetap saja hatinya tidak mau memaafkan !
Hari berganti hari, bulan bergantu bulan, plus tahun berganti tahun.Suatu saat pemuda itu, bertemu dengan teman jauhnya yang sudah tidak lama bersua. Mereka tertawa-tawa dan mulai membahas kehidupan apa saja yang terjadi selama mereka berpisah.
Sampai akhirnya sang teman bertanya kepada pemuda tadi, karena merasa ada sesuatu yang dipendam oleh sahabatnya itu.
Tentunya dengan bahasa ceplas-ceplosnya anak muda jaman sekarang ya
“Hei teman, muka lo keliatan gak enak banget kayaknya ! ” Lo kayaknya lagi dendam ma seseorang ya?
“Iya nih kawan, gw punya dendam ma seorang cewe, mantan gw gitu. Gw diduain gitu deh. Gw sakih hati! Gw dendam banget pokoknya! ”
” Oh jadi dendam nih ceritanya? ” Pantesan aja…muka kusut kayak benang layangan gitu”
“jangan malah ngejek gw donk.. Kasih saranlah kawan, gimana caranya gw bisa balas dendam sama tuh cewe, punya ide gak? ”
Temannya terdiam sejenak, kemudian bertanya kembali kepada pemuda itu.
“Lo dendam ?”
Pemuda : ” BANGET! ”
“Sakit hati ? ”
Pemuda : ” Ya Iyalah ! sampai gw gak bisa berfikir jernih lagi, gak bisa enak makan , gak bisa tidur pules, dan serasa hidup gw ada yang kurang lengkap ! ”
” Lo pengen banget ya, mantan lo itu ngerasain rasa sakit hati yang sama kayak yang lo rasain sekarang ini”
Pemuda : ” kalo perlu lebih sakit ! ”
“Terus dia sekarang gimana ? apa dia sekarang sudah punya kekasih baru ? apa dia sedang bahagia sekarang ? ”
Pemuda : ” yaiyalah dia sekarang dengan kekasihnya yang baru! makanya gw diduain ! dan pastinya dia sedang bahagia-bahagianya tuh dengan kekasihnya ! ”
Kemudian pemuda itu dengan cepat bertanya lagi :” Hei lo udah dapet ide ya ? ”
Temannya kemudian mengambil nafas panjang, dan kemudian menatap dalem-dalem pemuda yang merupakan teman baiknya tersebut.
” Lo dengerin baik-baik ya frend.”
” Dengan lo mendem sakit hati lo sampai begini, sampai lo gak bisa berfikir jernih, gak bisa enak makan , gak bisa tidur pules, dan serasa hidup lo kurang lengkap kalo belum bales dendam, gw tanya sama lo …
“Dengan keadaan lo yang dendam sedalem ini, apa dia jadi sakit hati juga ? ”
“Apa dia jadi gak enak makan kayak lo juga ? ”
“Apa dia jadi susah tidur juga kayak lo ? ”
“Apa dia jadi merasa hidupnya tersiksa kayak yang lo rasakan juga”
“HEI SADAR !”
“Dia sekarang bahkan lagi ketawa-ketawa sama kekasihn barunya, dan lo disini masih aja ngerasa sakit hati yang jelas-jelas begitu menyiksa hari-hari lo”
” NGARUH GITU DENDAM LO???? ”
“Intinya,……
“KALO LO DENDAM KE DIA, DAN DIA JADI TERSIKSA HIDUPNYA, LO LANJUTIN DEH TUH DENDAM !
“TAPI KALO DENGAN LO DENDAM, DIA TETEP GAK JADI KENAPA-KENAPA, BAHKAN MUNGKIN DIA UDAH LUPA KALO DIA UDAH NYAKITIN LO, 2 KATA BUAT LO DEH FREND…
” LO BODOH ! ”
” RUGI 2 KALI LO ! “
Sadarlah kawan.
Dengan memendam rasa marah, rasa sakit hati kita, rasa dendam kita. Sebenarnya kita sedang menambah kerugianbuat diri kita sendiri.
Kita memang disakiti. Oke memang itu sudah terjadi, dan wajar bagi kita untuk sakit hati.
Tapi kemudian ikhlaskanlah..
Karena dengan memendam dendam, membuat hidup kita jadi tambah tersiksa.
Bukankah kita hal itu merugikan diri kita sendiri ?
Daripada dendam, lebih baik kita tatap sebuah cermin…
Kita pandang wajah kita,…
Dan katakan :
“Wah saya sedang diuji nih, dengan disakitinya diri saya ini”
“Ku akui saya memang sakit hati banget atas perilaku dia”
“Tapi kalau saya dendam, saya malah menambah penderitaan saya lagi”
“Saya harus bisa memaafkan dia ..dengan ikhlas…”
“Masalah balas dendam, Tuhan Maha Adil kok, biar Dia saja yang membalasnya “
Life must Goes On….
Saturday, December 24, 2011
operator telepon
Waktu saya masih amat kecil, ayah sudah memiliki telepon di rumah kami. Inilah telepon masa awal, warnanya hitam, di tempelkan di dinding, dan kalau mau menghubungi operator, kita harus memutar sebuah putaran dan minta disambungkan dengan nomor telepon lain. Sang operator akan menghubungkan secara manual.
Dalam waktu singkat, saya menemukan bahwa, kalau putaran di putar, sebuah suara yang ramah, manis, akan berkata : "Operator". Dan si operator ini maha tahu.
Ia tahu semua nomor telepon orang lain!
Ia tahu nomor telepon restoran, rumah sakit, bahkan nomor telepon toko kue di ujung kota.
Pengalaman pertama dengan sang operator terjadi waktu tidak ada seorangpun dirumah, dan jempol kiri saya terjepit pintu. Saya berputar putar kesakitan dan memasukkan jempol ini kedalam mulut tatakala saya ingat .... Operator!!!
Segera saya putar bidai pemutar dan menanti suaranya.
" Disini operator..."
" Jempol saya kejepit pintu..." kata saya sambil menangis. Kini emosi bisa meluap, karena ada yang mendengarkan.
" Apakah ibumu ada di rumah ? " tanyanya.
" Tidak ada orang "
" Apakah jempolmu berdarah ?"
" Tidak , cuma warnanya merah, dan sakiiit sekali "
" Bisakah kamu membuka lemari es? " tanyanya.
" Bisa, naik di bangku. "
" Ambillah sepotong es dan tempelkan pada jempolmu..."
Sejak saat itu saya selalu menelpon operator kalau perlu sesuatu.
Waktu tidak bisa menjawab pertanyaan ilmu bumi, apa nama ibu kota sebuah Negara, tanya tentang matematik. Ia juga menjelaskan bahwa tupai yang saya tangkap untuk dijadikan binatang peliharaan , makannya kacang atau buah.
Suatu hari, burung peliharaan saya mati.
Saya telpon sang operator dan melaporkan berita duka cita ini.
Ia mendengarkan semua keluhan, kemudian mengutarakan kata kata hiburan yang biasa diutarakan orang dewasa untuk anak kecil yang sedang sedih. Tapi rasa belasungkawa saya terlalu besar. Saya tanya : " Kenapa burung yang pintar menyanyi dan menimbulkan sukacita sekarang tergeletak tidak bergerak di kandangnya ?"
Ia berkata pelan : " Karena ia sekarang menyanyi di dunia lain..." Kata - kata ini tidak tau bagaimana bisa menenangkan saya.
Lain kali saya telpon dia lagi.
" Disini operator "
" Bagaimana mengeja kata kukuruyuk?"
Kejadian ini berlangsung sampai saya berusia 9 tahun. Kami sekeluarga kemudian pindah kota lain. Saya sangat kehilangan " Disini operator "
Saya tumbuh jadi remaja, kemudian anak muda, dan kenangan masa kecil selalu saya nikmati. Betapa sabarnya wanita ini. Betapa penuh pengertian dan mau meladeni anak kecil.
Beberapa tahun kemudian, saat jadi mahasiswa, saya studi trip ke kota asal.
Segera sesudah saya tiba, saya menelpon kantor telepon, dan minta bagian "
operator "
" Disini operator "
Suara yang sama. Ramah tamah yang sama.
Saya tanya : " Bisa ngga eja kata kukuruyuk "
Hening sebentar. Kemudian ada pertanyaan : "Jempolmu yang kejepit pintu sudah sembuh kan ?"
Saya tertawa. " Itu Anda.... Wah waktu berlalu begitu cepat ya "
Saya terangkan juga betapa saya berterima kasih untuk semua pembicaraan waktu masih kecil. Saya selalu mdnikmatinya. Ia berkata serius : " Saya yang menikmati pembicaraan dengan mu. Saya selalu menunggu nunggu kau menelpon "
Saya ceritakan bahwa , ia menempati tempat khusus di hati saya. Saya bertanya apa lain kali boleh menelponnya lagi. " Tentu, nama saya Saly "
Tiga bulan kemudian saya balik ke kota asal. Telpon operator. Suara yang sangat beda dan asing. Saya minta bicara dengan operator yang namanya Saly.
Suara itu bertanya " Apa Anda temannya ?"
" Ya teman sangat lama "
" Maaf untuk kabarkan hal ini, Saly beberapa tahun terakhir bekerja paruh waktu karena sakit sakitan. Ia meninggal lima minggu yang lalu..."
Sebelum saya meletakkan telepon, tiba tiba suara itu bertanya : "Maaf, apakah Anda bernama Paul ?"
"Ya "
" Saly meninggalkan sebuah pesan buat Anda. Dia menulisnya di atas sepotong kertas, sebentar ya....."
Ia kemudian membacakan pesan Saly :
" Bilang pada Paul, bahwa IA SEKARANG MENYANYI DI DUNIA LAIN... Paul akan mengerti kata kata ini...."
Saya meletakkan gagang telepon. Saya tahu apa yang Saly maksudkan.
Jangan sekali sekali mengabaikan, bagaimana Anda menyentuh hidup orang lain.
sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3923945
Friday, December 23, 2011
Tentang Kesuksesan dan Masa Depan
“Success is something you attract by the person you become.”
Kalau diartikan:
“Kesuksesan adalah sesuatu yg anda tarik / dapatkan oleh diri anda yg layak untuk mendapatkannya.”
Sekarang adalah bagaimana kita mendapat KESUKSESAN ITU ??
1. Anda harus mengerti bahwa kesuksesan itu Rancangan Tuhan.
Kenapa ?? Karena semua kehidupan kesuksesan itu sudah diatur oleh yang Maha Kuasa .
2. Berdoa dan bekerja
Berdoa adalah hal yang sangat mulia dimana kita bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Kita memohon kepada-Nya , minta kepada-nya atas segala yang kita inginkan. Tidak hanya dengan berdoa saja tetapi kita harus dengan bekerja sehingga Tuhan akan memberi apa yang kita butuhkan. Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang malas.
3. Banyak belajar
Belajarlah dari segala pengalaman hidup. Kita bisa mencapai kesuksesan dengan mempelajari setiap apa yang kita kerjakan dan apa yang kita terima serta kesalahan yang telah kita perbuat. Ini akan menjadi bekal bagi kita untuk memperoleh kesuksesan itu.
4. Butuh perjuangan, kerja keras , kerajinan, ketekunan, kejujuran dan Berjiwa sukses
Segala seuatu tidak akan bisa kita capai bila kita bermalas-malasan. Kita membutuhkan sebuah perjuangan dengan kerja keras , kerajinan, dan ketekunan yang disertai dengan dasar bahwa kita ini memliki jiwa yang sukses.
5. Butuh campur tangan Tuhan
Segala seuatu yang kita perbuat haruslah mengikutsertakan capur tangan Tuhan. Kita tidak boleh mengandalkan kekuatan manusia saja. Biar bagaimanapun, keberhasilan seseorang adalah pemberian dari Tuhan.
6. Butuh kesiapan
Kesiapan adalah kunci agar kita benar-benar matang mencapai kesuksesan . Persiapan diri dari awal kesuksesan dan setelah kita mendapatkan kesuksesan awal. Kita harus benar-benar siap akan segala resiko yang akan terjadi.
7. Kesuksesan itu Hak setiap orang
Setiap manusia sudah diatur oleh Tuhan tentang kesuksesan apa yang kita terima . Untuk itu percayalah bahwa sukses itu akan datang pada waktunya . Jangan menyerah mengejar kesuksesan itu.
8. Diawali dengan mimpi lalu bertindak
Mimpi memberi kita arahan tentang hal apa yang ingin kita capai. Mimpi itu penting supaya kita memiliki gambaran hidup untuk ke depan. Setelah kita bermimpi , alangkah baiknya kita meyakini mimpi kita dan bertindak sesuai dengan bagaimana cara kita memperoleh mimpi itu supaya menjadi kenyataan.
9. Sukses masing-masing orang itu berbeda
Keberhasilan setiap manusia itu berbeda-beda. Ada orang yang berhasil di bidang A dan ada orang yang berhasil di bidang B. Jangan memaksa diri untuk mengingini keberhasilan orang yang kita tidak mampu untuk mencapainya. Memaksa diri malah akan membuat diri kita jatuh.
10. Impian dan tekad untuk meraih prestasi sebagai pencetak sejarah
Kepercayaan diri yang kuat memotivasi kita untuk mempermudah mencapai kesuksesan itu. Keinginan yang kuat untuk mencapai kesuksesan sangatlah penting. Milikilah keyakinan bahwa kita akan menjadi pencetak sejarah diri kita yaitu dari orang yang biasa akan menjadi ORANG YANG LUAR BIASA !!
sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=9495298
Friday, October 7, 2011
Terimakasih Pak Hamid, Kami Bangga Menjadi Murid Bapak
Pak Hamid duduk termangu. Dipandanginya benda-benda yang berjajar di depannya dengan masygul. Bertahun-tahun dimilikinya dengan penuh kebanggaan. Dirawat dengan baik hingga selalu bersih dan mengkilap. Jika ada orang yang bertanya, Pak Hamid akan bercerita dengan penuh kebanggaan.
Siapa yang tidak bangga memiliki benda-benda itu? Berbagai plakat penghargaan yang diterimanya selama 35 tahun pengabdiannya sebagai guru di daerah terpencil. Daerah terisolasi yang tidak diminati oleh guru-guru yang lain.
Namun Pak Hamid ikhlas menjalaninya, walau dengan gaji yang tersendat dan minimnya fasilitas sekolah. Cinta Pak Hamid pada anak-anak kecil yang bertelanjang kaki dan rela berjalan jauh untuk mencari ilmu, mampu menutup keinginannya untuk pindah ke daerah lain yang lebih nyaman.
Kini masa itu sudah lewat. Masa pengabdiannya usai sudah pada usianya yang keenam puluh. Meskipun berat hati, Pak Hamid harus meninggalkan desa itu beserta keluarganya. Mereka tinggal di rumah peninggalan mertuanya di pinggir kota. Jauh dari anak didik yang dicintainya, jauh dari jalan tanah, sejuknya udara dan beningnya air yang selama ini menjadi nafas hidupnya.
“Hei, jualan jangan sambil melamun!” teriak pedagang kaos kaki di sebelahnya. Pak Hamid tergagap.
“Tawarkan jualanmu itu pada orang yang lewat. Kalau kamu diam saja, sampek elek ra bakalan payu!”* kata pedagang akik di sebelahnya.
“Jualanmu itu menurutku agak aneh,” ujar pedagang kaos kaki lagi. “Apa ada yang mau beli barang-barang seperti itu ? Mungkin kamu mesti berjualan di tempat barang antik. Bukan di kaki lima seperti ini”.
Pak Hamid tak menjawab. Itu pula yang sedang dipikirkannya. Siapa yang tertarik untuk membeli plakat-plakat itu? Bukanlah benda-benda itu tidak ada gunanya bagi orang lain, sekalipun sangat berarti baginya ?
“Sebenarnya kenapa sampai kau jual tanda penghargaan itu ?” tanya pedagang akik.
“Saya butuh uang.”
“Apa istri atau anakmu sedang sakit ?”
“Tidak. Anak bungsuku hendak masuk SMU. Saya butuh uang untuk membayar uang pangkalnya.”
“Kenapa tidak ngutang dulu. Siapa tahu ada yang bisa membantumu.”
“Sudah. Sudah kucoba kesana-kemari, namun tak kuperoleh juga.”
“Hei, bukankah kau punya gaji...eh... pensiun maksudku.”
“Habis buat nyicil montor untuk ngojek si sulung dan buat makan sehari-hari.”
Penjual akik terdiam. Mungkin merasa maklum, sesama orang kecil yang mencoba bertahan hidup di kota dengan berjualan di kaki lima .
“Kau yakin jualanmu itu akan laku?”penjual kaos kaki bertanya lagi setelah beberapa saat. Matanya menyiratkan iba.
“Insya Allah. Jika Allah menghendaki aku memperoleh rejeki, maka tak ada yang dapat menghalanginya.”
Siang yang panas. Terik matahari tidak mengurangi hilir mudik orang-orang yang berjalan di kaki lima itu. Beberapa orang berhenti, melihat-lihat akik dan satu dua orang membelinya. Penjual akik begitu bersemangat merayu pembeli. Rejeki tampaknya lebih berpihak pada penjual kaos kaki. Lebih dari dua puluh pasang kaos kaki terjual. Sedangkan jualan Pak Hamid, tak satupun yang meliriknya.
Keringat membasahi tubuh Pak Hamid yang mulai renta dimakan usia. Sekali lagi dipandanginya plakat-plakat itu. Kegetiran membuncah dalam dadanya. Berbagai penghargaan itu ternyata tak menghidupinya. Penghargaan itu hanya sebatas penghargaan sesaat yang kini hanya tinggal sebuah benda tak berharga.
Sebuah ironi yang sangat pedih. Tak terbayangkan sebelumnya. Predikatnya sebagai guru teladan bertahun yang lalu, tak sanggup menghantarkan anaknya memasuki sekolah SMU. Sekolah untuk menghantarkan anaknya menggapai cita-cita, yang dulu selalu dipompakan ke anak-anak didiknya. Saat kegetiran dan keputusasaan masih meliputinya, Pak Hamid dikejutkan oleh sebuah suara.
“Bapak hendak menjual plakat-plakat ini?” seorang lelaki muda perlente berjongkok sambil mengamati jualan Pak Hamid. Melihat baju yang dikenakannnya dan mobil mewah yang ditumpanginya, ia sepertinya lelaki berduit. Pak Hamid tiba-tiba berharap.
“Ya...ya..saya memang menjual plakat-plakat ini,” jawab Pak Hamid gugup.
“Berapa bapak jual setiap satuannya?”
Pak Hamid berfikir,”Berapa ya? Bodoh benar aku ini. Dari tadi belum terpikirkan olehku harganya.”
“Berapa, Pak?”
“Eee...tiga ratur ribu.”
“Jadi semuanya satu juta lima ratus. Boleh saya beli semuanya ?”
Hah! Dibeli semua, tanpa ditawar lagi! Kenapa tidak kutawarkan dengan harga yang lebih tinggi? Pikir Pak Hamid sedikit menyesal. Tapi ia segera menepis sesalnya. Sudahlah, sudah untung bisa laku.
“Apa bapak punya yang lain. Tanda penghargaan yang lain misalnya ...”
Tanda penghargaan yang lain? Pak Hamid buru-buru mengeluarkan beberapa piagam dari tasnya yang lusuh. Piagam sebagai peserta penataran P4 terbaik, piagam guru matematika terbaik se kabupaten, bahkan piagam sebagai peserta Jambore dan lain-lain piagam yang sebenarnya tidak begitu berarti. Semuanya ada sepuluh buah.
“Bapak kasih harga berapa satu buahnya ?”
“Dua ratus ribu.” Hanya itu yang terlintas di kepalanya.
“Baik. Jadi semuanya seharga tiga juta lima ratus ribu. Bapak tunggu sebentar, saya akan ambil uang di bank sana itu.” kata lelaki perlente itu sambil menunjuk sebuah bank yang berdiri megah tak jauh dari situ.
“Ya...ya..saya tunggu.” kata Pak Hamid masih tak percaya.
Menit-menit yang berlalu sungguh menggelisahkan. Benarkah lelaki muda itu hendak membeli plakat-plakat dan berbagai tanda penghargaannya? Atau dia hanya penipu yang menggoda saja? Pak Hamid pasrah.
Tapi nyatanya, lelaki itu kembali juga akhirnya dengan sebuah amplop coklat di tangannya. Pak Hamid menghitung uang dalam amplop, lalu buru-buru membungkus plakat-plakat dan berbagai tanda penghargaan miliknya dengan kantong plastik, seakan-akan takut lelaki muda itu berubah pikiran.
Dipandangnya lelaki muda itu pergi dengan gembira bercampur sedih. Ada yang hilang dari dirinya. Kebanggaan atau mungkin juga harga dirinya. Pak Hamid kini melipat alas dagangannya dan segera beranjak meninggalkan tempat itu, meninggalkan pedagang akik dan kaos kaki yang terbengong-bengong. Entah apa yang mereka pikirkan. Namun, ia tak sempat berfikir soal mereka, pikirannya sendiri pun masih kurang dapat mempercayai apa yang baru saja terjadi.
“Lebih baik pulang jalan kaki saja. Mungkin sepanjang jalan aku bisa menata perasaanku. Sebaik mungkin. Aku tidak ingin istriku melihatku merasa kehilangan plakat-plakat itu. Aku tidak ingin ia melihatku menyesal telah menjualnya. Karena aku ingin anakku sekolah, aku ingin dia sekolah!” Pak Hamid bertutur panjang dalam hati.
Ia melangkah gontai menuju rumah. Separuh hatinya begitu gembira, akhirnya si bungsu dapat sekolah. Tiga setengah juta cukup untuk membiayai uang pangkal dan beberapa bulan SPP. Namun, separuh bagian hatinya yang lain menangis, kehilangan plakat-plakat itu, yang sekian tahun lamanya selalu menjadi kebanggaannya.
Jarak tiga kilometer dan waktu yang terbuang tak dipedulikannya. Sesampainya di rumah, istrinya menyambutnya dengan wajah khawatir.
“Ada apa, Pak? Apa yang terjadi denganmu? Tadi ada lelaki muda yang mencarimu. Dia memberikan bungkusan ini dan sebuah surat. Aku khawatir sampeyan ada masalah.”
Pak Hamid tertegun. Dilihatnya kantong plastik hitam di tangan istrinya. Sepertinya ia mengenali kantong itu. Dibukanya kantong itu dengan terburu-buru. Dan...plakat- plakat itu, tanda penghargaan itu ada di dalamnya! Semuanya! Tak ada yang berkurang satu bijipun! Apa artinya ini? Apakah lelaki itu berubah pikiran? Mungkin ia bermaksud mengembalikan semuanya. Atau mungkin harga yang diberikannya terlalu mahal.
Batin Pak Hamid bergejolak riuh. Segera dibukanya surat yang diangsurkan istrinya ke tangannya. Sehelai kartu nama terselip di dalam surat pendek itu.
Pak Hamid yang saya cintai,
Saya kembalikan plakat-plakat ini. Plakat-plakat ini bukan hanya berarti untuk Bapak, tapi juga buat kami semua, murid-murid Bapak. Kami bangga menjadi murid Bapak. Terima kasih atas semua jasa Bapak.
Gunarto, lulusan tahun 75.
Tak ada kata-kata. Hanya derasnya air mata yang membasahi pipi Pak Hamid.
sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10426685
Subscribe to:
Posts (Atom)
